Tahapan-tahapan Pembuatan Vertikultur
- Pembuatan Wadah Tanam Vertikultur
Contoh
salah satu wadah
tanam dibuat dari
dua
batang bambu yang masing-
masing panjangnya 120 cm, dengan pembagian 100 cm untuk wadah tanam dan 20 cm sisanya untuk ditanam ke tanah. Pada setiap bambu akan dibuat lubang tanam sebanyak 10 buah. Bambu dipilih yang batangnya
paling besar, lalu
dipotong sesuai
dengan ukuran yang ditetapkan. Semakin bagus kualitas bambu, semakin lama masa
pemakaiannya. Di
bagian 20 cm
terdapat
ruas
yang
nantinya akan menjadi ruas terakhir dihitung dari atas. Semua ruas bambu kecuali yang terakhir dibobol dengan menggunakan linggis supaya keseluruhan ruang dalam bambu terbuka. Di bagian inilah nantinya media tanam ditempatkan. untuk ruas terakhir tidak dibobol keseluruhan, melainkan hanya dibuat sejumlah lubang kecil dengan paku untuk sirkulasi air keluar wadah.
Selanjutnya dibuat lubang tanam di sepanjang bagian 100 cm dengan menggunakan bor listrik. Dapat juga menggunakan alat lain seperti pahat untuk membuat lubang. Lubang dibuat secara selang-seling pada keempat sisi bambu (asosiasikan permukaan bambu dengan bidang kotak). Pada dua sisi yang saling berhadapan terdapat masing-masing tiga lubang tanam, pada dua sisi lainnya masing- masing dua lubang tanam, sehingga didapatkan 10 lubang tanam secara keseluruhan. Setiap lubang berdiameter kira-kira 1,5 cm, sedangkan jarak antar lubang dibuat 30 cm.
Selanjutnya dibuat lubang tanam di sepanjang bagian 100 cm dengan menggunakan bor listrik. Dapat juga menggunakan alat lain seperti pahat untuk membuat lubang. Lubang dibuat secara selang-seling pada keempat sisi bambu (asosiasikan permukaan bambu dengan bidang kotak). Pada dua sisi yang saling berhadapan terdapat masing-masing tiga lubang tanam, pada dua sisi lainnya masing- masing dua lubang tanam, sehingga didapatkan 10 lubang tanam secara keseluruhan. Setiap lubang berdiameter kira-kira 1,5 cm, sedangkan jarak antar lubang dibuat 30 cm.
- Pengadaan Media Tanam
Media tanam
adalah
tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang
perakaran. Dari media
tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara
melalui akarnya. Media tanam yang digunakan adalah campuran
antara tanah, pupuk kompos, dan
sekam dengan
perbandingan 1:1:1. Setelah semua
bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata.
Tanah dengan sifat koloidnya memiliki
kemampuan untuk
mengikat unsur
hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh
akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung
air
di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi
unsur
hara
yang
diperlukan tanaman.
Campuran media tanam kemudian
dimasukkan ke dalam bambu hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang kosong, dapat digunakan bambu
kecil atau kayu untuk mendorong tanah hingga
ke dasar wadah (ruas terakhir). Media tanam di dalam bambu diusahakan agar tidak terlalu padat supaya air mudah
mengalir, juga
supaya akar tanaman tidak kesulitan “bernafas”, dan tidak terlalu renggang agar ada
keleluasaan dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban.
Contoh media tanaman
- Persiapan Bibit dan Penanaman
Sebelum berencana membuat wadah vertikal, terlebih dahulu mempersiapkan sejumlah bibit tanaman. Ketika tanaman sudah mencapai umur siap dipindahkan, pada dasarnya ada tiga tahap dalam proses ini, yaitu persemaian, pemindahan, dan penanaman.
Seperti halnya menanam, menyemaikan benih juga memerlukan wadah dan
media
tanam. Wadah bisa
apa saja sepanjang dapat diisi
media tanam seperlunya dan memiliki lubang di bagian bawah untuk mengeluarkan kelebihan air. Persemaian
menggunakan wadah khusus persemaian benih yang disebut tray dengan jumlah lubang 128 buah
(tray
lain jumlah dan ukuran lubangnya bervariasi). Dapat juga persemaian
menggunakan sebuah pot ukuran sedang dan sebuah bekas tempat kue. Adapun untuk
media tanamnya adalah media tanam dari produk jadi yang bersifat organic
Contoh bibit
tanaman
Jika menggunakan tray, jumlah benih yang dapat disemaikan
sudah terukur karena setiap lubang diisi
sebuah benih (walaupun bisa juga diisi
2 atau 3). Jika
menggunakan wadah lain maka jumlah benih yang dapat disemaikan
disesuaikan
dengan ukuran wadahnya, dalam hal
ini jarak tanam benih
diatur sedemikian rupa agar tidak berdempetan. Dua-tiga minggu setelah persemaian benih sudah berkecambah
dan
mengeluarkan 3-4
daun. Idealnya, benih yang sudah
tumbuh daun berjumlah 4-5
helai sudah layak dipindahtanamkan.
Bibit tanaman yang dipindahkan ke wadah vertukultur sudah berumur lebih
dari satu bulan, daunnya
pun
sudah bertambah. Karena hanya memiliki total 20 lubang
tanam dari dua batang bambu,
maka cukup leluasa untuk memilih 20 bibit terbaik. Sebelum
bibit-bibit ditanam di wadah bambu,
terlebih
dahulu menyiramkan air ke
dalamnya hingga
jenuh, ditandai dengan menetesnya
air
keluar dari lubang-lubang tanam. Setelah cukup, baru mulai menanam bibit satu demi satu. Semua bagian akar dari setiap
bibit harus masuk ke
dalam tanah. Setiap jenis bibit
(cabe merah dan
tomat) dikelompokkan di wadah bambu terpisah.
- Pemeliharaan Tanaman
Tanaman juga memerlukan perawatan, seperti halnya makhluk hidup yang lain. Tanaman
memerlukan perhatian dan
kasih sayang. Selain penyiraman dilakukan setiap
hari
juga perlu
pemupukan,
dan
juga pengendalian hama
penyakit.
Sebaiknya pupuk yang digunakan
adalah pupuk organik misalnya pupuk
kompos, pupuk
kandang
atau pupuk bokashi. Disarankan
agar sayuran buah seperti cabe, tomat tidak mudah rontok sebaiknya menambahkan KCL satu sendok teh
atau
sendok makan tergantung besar kecilnya pohon. Pemberian KCL setiap 5 sampai 6 bulan sekali. Di perkotaan, pupuk kandang atau kompos harganya menjadi mahal.
Limbah dapur atau daun-daun
kering
bisa dimanfaatkan
untuk pembuatan
pupuk
bokashi.
Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi
bahan organik (jerami,
sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai
pupuk.
Kalau di
daerah pedesaan, biasanya
sampah
atau
kotoran hewan dimasukkan
ke sebuah
lubang.
Kalau lubangnya
sudah penuh, sampah
dibakar dan sebagai
pupuk.
Dengan catatan, pupuk kotoran
hewan
yang akan digunakan
hendaknya
sudah tidak berbau busuk. Di
swalayan, kios tanaman saat ini
sudah banyak dijual pupuk kandang
yang sudah kering, tidak berbau,
dan steril.
Saat ini masyarakat mulai banyak mempertimbangkan
mengkonsumsi hasil panen yang Iebih sehat cara penanamannya, yaitu menggunakan pupuk dan pengendalian hama
alami, meskipun harga produk tersebut lebih
mahal.
Saran untuk berkebun di rumah sebaiknya tidak menggunakan bahan kimia.
Ditekankan pula jangan
menggunakan
furadan untuk membunuh hama yang ada di
dalam tanah. Penggunaan furadan bisa mengurangi tingkat kesuburan tanah dan juga mencemari tanaman
kurang lebih selama sebulan. Jadi, sebaiknya untuk tanaman sayuran tidak perlu digunakan furadan.
- Pemanenan
Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem
cabut akar (sawi,
bayam, seledri, kemangi, selada,
kangkung dan sebagainya). Apabila kita punya tanaman
sendiri dan dikonsumsi sendiri
akan
lebih menghemat apabila panen dilakukan dengan mengambil daunnya saja. Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih
lama dan bisa panen
berulang-ulang.
Sumber:
Lukman, Liferdi. 2015. Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran Secara Vertikultur. Bandung :
Balai Penelitian Tanaman Sayuran.



0 komentar:
Posting Komentar